Page

Tepung Party

Dalam Rangka memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, PAUD Auliyaa menyelenggarakan outbound ” Tepung Party ” bersama KFC Balkpapan.
Mumpung acaranya belum dimulai, Foto bareng Chaky dulu ah...

Praktek Beribadah

Perkembangan kesadaran beragama merujuk pada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan ke dalam peribadatan kepada Allah, baik yang bersifat hubungan kepada Allah maupun sesama manusia atau sesama makhluk ciptaan.
Mengajarkan anak melaksanakan ibadah harus dilakukan sejak usia dini. Kewajiban mengerjakan shalat adalah sebagai bukti seorang hamba mensyukuri nikmat Allah yang telah ia peroleh. Shalat merupakan sarana seorang hamba bermohon pada Allah. Do'a semua makhluk didengar Allah. Demikian pula dengan doa tulus seorang anak. Do'anya akan didengar Allah.
Hindari mengajarkan shalat kepada anak dengan cara-cara ancaman. Misalnya: "Jika kamu tidak shalat nanti maka kamu akan dimasukkan ke dalam neraka, disiksa Allah dalam kubur dan ancaman lainya."

Sebelum membangkitkan rasa keimanan anak sebaiknya orangtua mulai bercermin pada diri sendiri. Apakah rasa keimanan diri sudah terwujud lewat melakukan ibadah yang baik dan benar? Jika belum, mengapa tidak memulai untuk memperbaiki ibadah sebelum ‘menurunkan’-nya pada anak. Dengan senatiasa mengingat Allah swt, jiwa seorang ayah maupun ibu akan senatiasa sadar dan terjaga akan perannya sebagai orangtua yang memiliki kewajiban untuk memberikan contoh pada anak-anaknya. Karena pendidikan ibadah yang terbaik adalah melalu contoh nyata dari kedua orangtuanya.
Menyaksikan kedua orangtua melakukan shalat lima waktu setiap hari sejak dini, membuat anak terpicu untuk meniru. Apalagi dikisahkan sebuah hadits ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan waktu untuk mulai mengajak anak pada ibadah shalat. Nabi menjawab, “Jika ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kirinya.” Pada anak kemampuan membedakan tangan kanan dan tangan kiri diperolehnya pada masa balita, atau masa lima tahun pertama usianya, ketika ia sedang senang-senangnya meniru apapun yang dilakukan ayah dan ibunya.
Di saat yang sama ayah maupun ibupun sebaiknya secara proaktif menyediakan sarana dan mengajak anak untuk mengikuti apa yang dilakukannya sewaktu melakukan ibadah shalat, misalnya menyediakan mukena atau sarung sesuai dengan ukurannya. Biarkan saja jika anak hanya memainkan sarung maupun mukenanya maupun mengikuti gerakan shalat sambil bermain-main, karena masa ini adalah masa bermain sehingga si kecilpun ‘mempelajari’ segala sesuatu melalui kegiatan yang satu ini. Namun sedikit demi sedikit orangtua dapat mengarahkan anak untuk mengikuti gerakan yang benar maupun memahami bahwa shalat adalah ibadah yang membutuhkan keseriusan dalam menjalankannya.

Rasulullah sebenarnya telah menunjukkan adanya fase-fase pengajaran sesuai dengan kemampuan anak. Jika anak diajarkan sesuai dengan fasenya serta mendapatkan contoh yang baik dari kedua orangtuanya, maka Insya Allah ia akan mendengar dan menaati kedua orangtuanya tanpa keraguan dan bantahan dalam memenuhi perintah tersebut. Namun jika orangtua tidak memberikan contoh yang baik maupun tidak memperkenalkan shalat secara bertahap sesuai dengan fase-fase perkembangan kemampuannya, maka bisa saja ia meremehkan perintah orangtuanya atau bahkan meninggalkan shalat karena tidak terbiasa dalam mengerjakan ibadah yang satu ini.

Belajar mengaji di PAUD Auliyaa menggunakan program Qiroaty, dimana anak-anak bisa mengenal tulisan Al Quran dalam tujuh tingkatan. Bukan hanya pengenalan tulisan, anak-anak juga diajarkan untuk bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar.
Selain belajar mengaji, anak-anak juga belajar menulis tulisan Al Quran. Mulai huruf-huruf sampai rangkaian kalimat pendek dalam Al Quran. Setelah mampu membacanya, anak-anak juga diajarkan untuk bisa menuliskannya.
Membiasakan praktik-praktik sunnah dalam kehidupan keseharian. Misalnya makan dengan membaca "Bismillah"  dan  membiasakan berdoa, mengakhirinya dengan "Alhamdulillah", masuk/keluar rumah dengan “Salam”, dll. Menghapalkan  do'a-do'a  sejak  sedini mungkin memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan anak.


Mulailah kebaikan dari diri sendiri sebelum mengajarkan pada anak-anak kita. Sekecil apapun.

Mendongeng

Bercerita atau mendongeng adalah penggambaran tentang sesuatu secara verbal. Bercerita merupakan stimulus yang dapat membangkitkan segala potensi anak secara mental. Melalui bercerita, anak di ajak berkomunikasi, berfantasi, dan berkhayal serta mengembangkan daya kognitifnya. Aktivitas mental anak dapat melambung, melanglang buana melampaui isi cerita itu sendiri. Dengan bercerita juga melatih perkembangan emosi anak. Anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas imajinasinya dengan cara ini.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik.
Jadi kesimpulannya adalah Kemampuan bercerita atau mendongeng sangat mutlak diperlukan para guru pendidikan anak usia dini. Dengan mendongeng, proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif.

Bermain Playdough

Anak mana yang tidak suka bermain dengan plastisin atau yang biasa disebut dengan playdough atau lilin. Bentuknya yang lunak dan berwarna warni, membuat anak-anak suka berkreasi dengan mainan ini. Permainan ini dapat membantu pengembangan Motorik Halus anak hiperaktif melalui bermain konstruktif.
Dan meski kelihatannya mainan ini sepele, tapi nilai edukatifnya cukup besar lho! Mainan ini sesuai dalam kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang menargetkan kemampuan motorik tangan dan jari anak. Belum lagi unsur tuntutan permainannya yang membutuhkan kreativitas.

Bermain Musik

Menekankan pada pelatihan kepekaan anak dengan bunyi-bunyian melalui iringan, tangga nada dengan media alat musik elektronik maupun tradisional yang dimaksudkan untuk menyeimbangkan otak kanan & kiri sehingga muncul asa, etika, dan estetika.

Bermain musik dapat mengajarkan anak-anak untuk dapat memperhatikan dan mengingat sesuatu, dan dapat membantu memperbaiki koordinasi dan skil jasmani lainnya. Bermain musik merupakan pengalaman tersendiri yang mempunyai hasil positif untuk membangun otak pada anak-anak.

Meronce

Meronce? Yah, kegiatan meronce adalah salah satu materi yang diberikan pada anak pra sekolah. Kegiatan memasukkan manik-manik ke dalam benang ini merupakan latihan agar anak dapat berkonsentrasi. Dan yang lebih penting lagi adalah merupakan tahapan pra membaca anak. Lho apa hubungannya ya?

Kegiatan meronce sendiri mempunyai beberapa tahap perkembangan. Anak dapat dikatakan siap diajari membaca jika sudah bisa meronce dengan menggunakan pola. Karena pada tahapan ini, anak sudah bisa mulai mengklasifikasikan sesuatu. Suatu tahapan yang diperlukan ketika anak mulai belajar membaca. Karena dalam pelajaran membaca, anak harus bisa membedakan bentuk huruf yang berbeda-beda.

Coloring Pages

Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Lewat menggambar, mereka bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Gambar-gambar yang mereka hasilkan menunjukkan tingkat kreativitas masing-masing anak

Beberapa manfaat dari kegiatan mewarnai diantaranya, merangsang kemampuan kognisi anak tentang konsep dan perbedaan warna. Kemampuan anak untuk menuangkan imajinasi dalam berbagai warna juga  akan terstimulasi.

Dengan objek gambar yang diwarnai, koordinasi motorik halus anak dilatih. Semakin sering mewarnai, kemampuan koordinasi visual motoriknya semakin baik. Anak belajar menangkap coretan gambar berbagai warna secara tepat. Warna maupun gambar yang dicoretkan anak, menyimbolkan ekspresi perasaan, emosi, keinginan dan kebutuhan. Karenanya, dari gambar atau warna yang dominan serta respons anak terhadap kertas bisa dikenali perasaan anak.

Bermain Puzzle

Puzzle merupakan permainan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan anak dalam merangkainya. Dengan terbiasa bermain puzzle, lambat laun mental anak juga akan terbiasa untuk bersikap tenang, tekun, dan sabar dalam menyelesaikan sesuatu. Kepuasan yang didapat saat ia menyelesaikan puzzle pun merupakan salah satu pembangkit motifasi untuk mencoba hal-hal yang baru baginya.

Meningkatkan kemampuan berpikir dan membuat anak belajar berkonsentrasi. 
Saat bermain puzzle, anak akan melatih sel-sel otaknya untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dan berkonsentrasi untuk menyelesaikan potongan-potongan kepingan gambar tersebut.
Melatih koordinasi tangan dan mata. 
Puzzle dapat melatih koordinasi tangan dan mata anak untuk mencocokkan keping-keping puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar. Puzzle juga membantu anak mengenal dan menghapal bentuk.
Meningkatkan Keterampilan Kognitif. 
Keterampilan kognitif (cognitive skill) berkaitan dengan kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah. Puzzle adalah permainan yang menarik bagi anak  karena anak  pada dasarnya menyukai bentuk gambar dan warna yang menarik. Dengan bermain puzzle anak akan mencoba memecahkan masalah yaitu menyusun gambar.
Belajar bersosialisasi. 
Dua anak yang bermain bersama-sama tentunya butuh diskusi untuk merancang kepingan-kepingan gambar dari puzzle tersebut. Anak yang lebih besar akan merasa senang jika dapat membantu anak yang lebih kecil, sebaliknya pun begitu, jadi akan tercipta suasana yang nyaman dan terciptanya interaksi ketika bermain.

Bermain puzzle memerlukan penggunaan keterampilan motorik halus, yaitu ketika anak diajarkan memegang dan mencocokkan kepingan puzzle ke tempatnya untuk menjadi sebuah gambar dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Mengembangkan motorik halus memang memerlukan latihan, Bermain Puzzle adalah salah satu dari beberapa jenis permainan yang konstruktif dan dapat digunakan sebagai stimulus untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

Sentra Rancang Bangun

Bermain Lego (bongkar pasang) berfungsi untuk memperkuat genggaman jari dan tangan anak, meningkatkan koordinasi mata dan tangan juga mendidik anak mempelajari perbedaan bentuk geometri. Mendorong anak untuk berteman dan bekerja sama.  Anak-anak diajarkan untuk berkreasi membuat bermacam-macam objek spt: rumah, alat-alat transportasi dsb.

Mainan balok merupakan pemicu stimulasi kreatifitas, karena anak akan membuat desain mereka sendiri dengan balok.


Anak dapat mengembangkan kemampuan kata-kata saat mereka mecoba mengambarkan ukuran, bentuk dan posisi. Anak mengembangkan kemampuan matematik melalui pengelompokan, penambahan, pengurangan. Dua buah segitiga sama sisi jika digabung akan menjadi persegi empat. Hal tersebut bisa juga akan dimengerti melalui bermain balok standar. Dengan bermain balok, anak akan mengalami bahwa balok jika tidak seimbang akan jatuh, anak belajar tentang keseimbangan dan gravitasi. Belajar geometri dari mainan balok akan meningkatkan stimulasi intelektual.


 

PAUD AULIYAA Copyright © 2009 - Designed by r21 - dedicated to The One And Only My Beloved Wife